Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Minggu, 12 Desember 2010

Gereja Dan Lingkungan Hidup

Sadarkah kita bahwa alam tempat tinggal kita ini makin rusak? Biasanya dalam merayakan Hari Lingkungan Hidup, banyak orang menyoroti kerusakan lingkungan hidup. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, serta pencemaran udara, air, dan tanah, semua itu adalah masalah yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini berduka. Lingkungan hidup menjadi rusak dan terjadilah ketidakadilan ekologi.

Gereja dan lingkungan hidup
I. Pendahuluan
Sadarkah kita bahwa alam tempat tinggal kita ini makin rusak? Biasanya dalam merayakan Hari Lingkungan Hidup, banyak orang menyoroti kerusakan lingkungan hidup. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, serta pencemaran udara, air, dan tanah, semua itu adalah masalah yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini berduka. Lingkungan hidup menjadi rusak dan terjadilah ketidakadilan ekologi.
Mengapa lingkungan hidup kita menjadi rusak? Adakah cara pandang dan sikap manusia yang salah terhadap alam? Tentu saja. Pemahaman dan cara pandang orang terhadap lingkungan hidup memengaruhi sikap mereka dalam memperlakukan alam. Misalnya ada pandangan bahwa manusia adalah pusat alam semesta (anthroposentris). Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem. Alam dilihat hanya sebagai objek, alat, dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya bernilai sejauh menunjang kepentingan manusia. Tentu pandangan seperti itu menghasilkan sikap yang tidak bersahabat dengan alam.
Melihat kembali peristiwa-peristiwa bencana alam yang melanda banyak bagian negeri kita, sudah seharusnyalah kita merenung bahwa sudah sejauh mana kerusakan yang kita perbuat kepada lingkungan tenpat kita berdiam dan hidup ini. Kita boleh lihat bahwa jika hal ini terus menerus terjadi maka tidak pelak lagi kehancuran bumi ini akan terjadi dan hal itu merupakan kehancuran kita semua. Maka hal yang utama pada saat sekarang ini adalah menyelamatkan bumi dari kehancurannya. Benarlah Robert P.Borrong mengatakan bahwa tidak ada pilihan lain kecuali bumi menjadi satu-satunya kemungkinan untuk manusia hidup, dan karena itu kerusakan bumi berarti ancaman terhadap kehidupan manusia itu sendiri.



II. Lingkungan hidup sebagai ciptaan Allah
Dalam Kejadian 1:24-30 dikatakan bahwa Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Artinya segala yang telah diciptakan Allah, yaitu bumi beserta seluruh isinya adalah sempurna. Allah telah menciptakan sebuah ekosistem yang saling bergantung satu dengan yang lain antara mahluk hidup ciptaan Allah dan juga bumi. Kebesaran dan keangungan Tuhan nampak dari karya ciptaannya dalam dunia ini. Ciptaan Allah (dalam artian Lingkungan Hidup) digambarkan pemazmur dalam Mazmur 104. Perikop ini menggambarkan ketakjuban pemazmur yang telah menyaksikan bagaimana Tuhan yang tidak hanya mencipta, tapi juga menumbuhkembangkannya dan terus memelihara ciptaan-Nya. Ayat 13, 16, 17,18 dan 30 misalnya, menggambarkan pohon-pohon diberi makan oleh Tuhan, semua ciptaan menantikan makanan dari Tuhan. Dalam perikop ini, penonjolan bahwa manusia berkuasa atas alam tidak tampak. Walaupun sebenarnya dalam kitab Kejadian, manusia diciptakan untuk menguasai dan memelihara ciptaan Allah tersebut. Tetapi yang lebih ditonjolkan dalam perikop ini adalah bukan hanya manusia yang menanti kasih dan berkat Allah, tetapi seluruh ciptaan (unsur lingkungan hidup). Ayat ini juga menggambarkan bahwa bukan hanya manusia saja yang diberi kehidupan tetapi juga ciptaan lainnya. Singkatnya, menurut penulis bahwa sebagai Pencipta, Allah sesuai rencana-Nya yang agung telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan fungsinya masing-masing dalam hubungan harmonis yang terintegrasi dan saling memengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Jadi, sikap eksploitatif terhadap alam merupakan bentuk penodaan dan perusakan terhadap karya Allah yang agung itu.
2.1. Kepemimpinan manusia atas alam
Walaupun manusia dan alam saling bergantung, Alkitab juga mencatat dengan jelas adanya perbedaan manusia dengan unsur-unsur ciptaan lainnya. Hanya manusia yang diciptakan segambar dengan Allah dan yang diberikan kuasa untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan seluruh ciptaan yang lain (Kej. 1:26-28), dan untuk mengelola dan memelihara lingkungan hidupnya (Kej. 2:15). Tetapi dalam kisah penciptaan yaitu Kej. 1:28, sering kali dipahami seolah-olah mandat dari Allah yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada manusia untuk mengekploitasi alam serta semua mahluk yang hidup di dalamnya. Memang benar bahwa manusia mempunyai kuasa yang lebih besar daripada mahluk lainnya. Manusia merupakan wakil Allah untuk memerintah mahluk hidup yang ada di bumi atas nam Allah. Tetapi sebagai wakil Allah, manusia tidaklah seharusnya memperlakukan alam dan mahluk lainnya dengan sewenang wenang. Menurut Bruce.C.Birch, Kej. 1:26 kata “radah” atau kekuasan tidaklah berarti bahwa manusia memiliki hak prerogratif untuk melakukan apa saja kepada bumi ini sesuka hati kita. Kita bukanlah raja yang absolute di dunia ini melainkan kita diberi kepercayaan untuk bertindak sebagai pelayan atas nama kuasa Allah sebagai Pencipta. Penulis sependapat dengan Bruce.C.Birch, yang mengatakan bahwa posisi manusia di bumi bukanlah sebagai penguasa atas alam ciptaan Allah, tetapi pelayan bagi seluruh ciptaan Allah tersebut untuk mewujudkan kehendak Allah atas bumi ini. Oleh sebab itu mnusia diberi kuasa atas alam adalah untuk memelihara sesuai dengan tujuan Allah. Maka manusia sebagai ciptaan Allah seharusnya memanfaatkan alam sebagai bagian daripada ibadah dan pengabdiannya kepad Allah. Tentunya ibadah dan pengabdian manusia bukanlah sebuah tindakan yang sewenang-wenang dan ekploitatif tetapi sebuah perlakuan yang baik dan bertanggungjawab. Dengan kata lain, penguasaan atas alam seharusnya dijalankan secara bertanggung jawab: mengelola sambil menjaga dan memelihara. Ibadah yang sejati adalah melakukan apa saja yang merupakan kehendak Allah dalam hidup manusia, termasuk hal mengelola ("abudah") dan memelihara ("samar") lingkungan hidup yang dipercayakan kekuasaan atau kepemimpinannya pada manusia.
2.2. Kegagalan manusia memelihara alam
Alkitab mencatat secara khusus adanya "keinginan" dalam diri manusia untuk menjadi sama seperti Allah dan karena keinginan itu ia "melanggar" amanat Allah (Kej. 3:5-6). Tindakan melanggar amanat Allah membawa dampak bukan hanya rusaknya hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesamanya dan dengan alam. Menurut Bruce C.Birch bahwa ciptaanan lainnya selain manusia juga ikut dalam kehancuran/penderitaan yang diakibatkan oleh dosa itu. Seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam hal kehancuran oleh dosa, “sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala mahluk sama-sama mengeluh dan sama-sama sakit bersalit” (Roma 8:22). Tindakan melanggar amanat Allah membawa dampak bukan hanya rusaknya hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesamanya dan dengan alam. Manusia menghadapi alam tidak lagi dalam konteks "sesama ciptaan", tetapi mengarah pada hubungan "tuan dengan miliknya". Manusia memperlakukan alam sebagai objek yang semata-mata berguna untuk dimiliki dan dikonsumsi. Manusia hanya memerhatikan tugas menguasai, tetapi tidak memerhatikan tugas memelihara. Dengan demikian, manusia gagal melaksanakan tugas kepemimpinannya atas alam. Akar perlakuan buruk manusia terhadap alam terungkap dalam istilah seperti: "tanah yang terkutuk", "susah payah kerja", dan "semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkan bumi" (Kej. 3:17-19). Manusia selalu dibayangi oleh rasa kuatir akan hari esok yang mendorongnya cenderung rakus dan materialistik (bnd. Mat. 6:19-25 ).
III. Tanggung jawab Gereja (orang Kristen) atas lingkungan
Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus memiliki peran yang besar dalam menjaga lingkungan dari kerusakannya. Dalam hal ini gereja harus menyadari bahwa kerusakan lingkungan sudah merupakan ancaman yang serius bagi tatanan kehidupan saat ini. Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan dan kerakusan manusia. Itu sebabnya manusia yang dikuasai dosa keserakahan dan kerakusan itu cenderung sangat konsumtif. Secara teologis, dapat dikatakan bahwa dosa telah menyebabkan krisis moral/krisis etika dan krisis moral ini menyebabkan krisis ekologis, krisis lingkungan. Dengan demikian, setiap perilaku yang merusak lingkungan adalah pencerminan krisis moral yang berarti tindakan dosa. Dalam arti itu, maka upaya pelestarian lingkungan hidup harus dilihat sebagai tindakan pertobatan dan pengendalian diri. Dilihat dari sudut pandang Kristen, maka tugas pelestarian lingkungan hidup yang pertama dan utama adalah mempraktikkan pola hidup baru, hidup yang penuh pertobatan dan pengendalian diri, sehingga hidup kita tidak dikendalikan dosa dan keinginannya, tetapi dikendalikan oleh cinta kasih.
Materialisme juga adalah akar kerusakan lingkungan hidup. Alam dalam bentuk benda menjadi tujuan yang diprioritaskan bahkan disembah menggantikan Allah. Kristus mengingatkan bahaya mamonisme (cinta uang/harta) yang dapat disamakan dengan sikap rakus terhadap sumber-sumber alam (Mat. 6:19-24.; 1 Tim. 6:6-10). Karena mencintai materi, alam dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan material. Lebih lanjut lagi Robert P.Borrong menegaskan bahwa faktor ekonomi khususnya segi kerakusan manusia merupakan faktor penting dalam proses pengrusakan lingkungan. Segi ini paling menonjol sebagai sisi yang menyebabkan pengrusakan lingkungan, karena mendorong pengeksploitasian tak terbatas terhadap sumber-sumber daya alam dan sekaligus menunjukkan ketidak adilan terhadap umat manusia. Akibat dari pengeksploitasian yang tak terbatas tersebut maka mengakibatkan kemerosotan yang luar biasa pada kondisi lingkungan, khususnya semakin terbatasnya sumber daya alam dan punahnya sebagian spesies tertentu. Akhir abad ini diperkirakan sejuta jenis binatang, tumbuhan, dan serangga terancam punah akibat kegiatan manusia tersebut. Tahun 2050 setengah dari spesies yang ada akan hilang selama-lamanya. Penurunan jumlah spesies yang mengerikan ini menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.
Maka supaya alam dapat dipelihara dan dijaga kelestariannya, manusia harus berubah (bertobat) dan mengendalikan dirinya. Manusia harus menyembah Allah dan bukan materi. Dalam arti itulah maka usaha pelestarian alam harus dilihat sebagai ibadah kepada Allah melawan penyembahan alam, khususnya penyembahan alam modern alias materialisme. Pelestarian alam juga harus dilihat sebagai wujud kecintaan kita kepada sesama sesuai ajaran Yesus Kristus, di mana salah satu penjabarannya adalah terhadap seluruh ciptaan Allah sebagai sesama ciptaan.
Oleh sebab itu menurut penulis, gereja harus berperan besar dalam menjaga lingkungan dari kerusakannya. Selama ini gereja hanya berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan kebaktian atau kegiatan lain yang melayani manusia. Menurut penulis, sudah saatnya gereja menyadari bahwa gereja memiliki tugas panggilan menjaga keutuhan ciptaan atau kelestarian lingkungan hidup. Gereja tidak boleh melepaskan tanggung jawab atas lingkungan ini. Gereja juga tidak boleh hanya berfokus pada kotbah dan doktrin semata. Tetapi gereja harus menjadi pelopor dalam menyuarakan dan menggerakkan masyrakat umumnya maupun warganya khususnya dalam menjaga lingkungan dari kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Tugas dan panggilan gereja dalam menjaga keutuhan ciptaan atau kelestarian lingkungan hidup, misalnya dengan membuat program-program seperti, pembinaan tentang kesadaran ekologis, perayaan hari lingkungan hidup dalam liturgy, menata lingkungan gereja dengan memperhatikan keseombangan ekologis, gerakan penanaman pohon bagi seluruh warga gereja, serta mengajak anggota jemaat membudayakan gaya hidup yang ramah dan dekat dengan alam.

3.1. Dewan Gereja-Gereja Dunia
Pada Sidang Raya DGD di Vancouver tahun 1983, menghasilkan tema “Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan” atau yang biasa disingkat dengan KPKC. Sidang Raya ini berpendapat masalah-masalah lingkungan perlu ditanggulangi sama seperti persoalan tentang isu-isu keadilan, misalnya Hak Azasi Manusia dan juga soal perdamaian, misalnya penggunaan senjata nuklir. Hal ini berarti bahwa persoalan lingkungan sekarang ini sama besarnya dengan persoalan keadilan dan perdamaian. Begitu juga dengan Sidang Raya VII tahun 1991 di Canberra, Australia, yang mengambil tema: “Come , Holy Spirit_Renew the whole Creation”. Berdasarkan tema tersebut, Sidang Raya telah melakukan berbagai pengkajian teologi mengenai tanggungjawab gereja terhadap mlingkungan dan menekankan beberapa segi yang penting untuk menjadi perhatian dan tugas gereja.
Dari hal tersebut di atas memang sudah saatnya gereja secara serius mengambil tindakan yang konkrit dalam menjaga lingkungan kita. Gereja tidak boleh lagi sekedar melayani di atas mimbar tetapi juga harus berada di depan untuk menjadi penggerak dalam menjaga alam lingkungan kita. Dalam pelaksanaannya saya setuju dengan pendapat Robert P.Borrong yang menekankan bahwa hal ini hendaknya diimplementasikan oleh gereja-gereja secara regional, nasional, sinodal dan juga local. Gereja-gereja di setiap tingkatan seperti yang disebutkan di atas harus aktif dalam mensosialisasikan serta melaksanakan pesan dari Sidang-Sidang Raya DGD tersebut. Karena dengan hal itu tentunya alam kita akan sedikit terjaga dari ancaman kerusakannya. Dengan demikian gereja telah nyata melaksanakan tri tugas panggilannya di dunia ini dengan tujuan mendatangkan shalom Kerajaan Allah bagi bumi ini.
3.2. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia
Pada Sidang Raya XI PGI tahun 1989 di Surabaya, tugas pemberitaan Injil dirumuskan sebagai berikut seperti yang dikutip oleh Robert.P.Borrong :
Memberitakan injil kepada seluruh mahluk mengandung makna tanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan Tuhan. Tuhan member mandat untuk mengusahakan dan memelihara segala ciptaan Tuhan (Kej.2:15). Karena dosa manusia, Bumi pun ikut terkutuk (Kej.3:17-18) dan ditahlukkan kepada kesia-siaan dan perbudakankebinasaan. Segala mahluk iktu mengerang merasa sakit bersalain menanti kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm.8:20-22). Allah menghendaki pulihnya kembali hubungan yang utuh dan menyeluruh antar segala mahluk (Yes.11:1-10). Kristus datang untuk memperbaharui segala sesuatu (Why.21:5) dan di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru (2Kor.5:17)
Rumusan tersebut sangat jelas bahwa tugas gereja dalam memberitakan injil adalah mencakup tanggung jawab gereja dalam menjaga lingkungan dari ancaman yang dapat merusak alam kita. Tetapi tugas gereja dalam menjaga alam lebih konkrit dirumuskan dalam Sidang Raya PGI X tahun 1994 di Jayapura, Irian Jaya menetapkan salah satu bentuk artisipasi dalam pelayanan gereja dalam pembangunan nasional, yaitu dalam hal kepekaan gereja terhadap pemeliharaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Tugas itu dilembagakan melalui Yayasan Tanggul Bencana Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (YTB-PGI). walaupun pada mulanya yayasan ini ditujukan kepada penanggulangan bencana, tetapi karena hal ini berhubungan langsung dengan lingkungan maka tugas pemeliharaan lingkungan diserahkan kepada yayasan ini untuk dikoordidnasikan secara nasional.
Sejalan dengan pendapat Robert.P.Borrong bahwa gereja merupakan lembaga yang menjadi sumber dan kekuatan moral, maka dalam menjaga lingkungan hidup, tanggung jawab sangat dibutuhkan. Dan hal ini memang harus menjadi tugas utama gereja dalam menumbuhkan tanggung jawab moral tersebut. Gereja harus menjadi Pembina moralitas dan spiritualitas yang dapat membangkitkan kesadaran akan lingkungan hidup. Moralitas dan spiritualitas ini dibangun dengan dasar penghayatan iman bahwa semua ciptaan diselamatkan dan dibaharui oleh Tuhan. Pembaharuan itu menciptakan kehidupan yang harmonis. Artinya jika gereja melihat hal-hal yang merupakan ancaman yang dapat merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, penebangan hutan, limbah pabrik dan sebagainya, maka gereja harus berani membina masyarakatnya sebagai tanggung jawab moral kepada Tuhan pencipta alam lingkungan ini.
3.3. Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)
Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (selanjutnya GKPPD), memang tidak memiliki sebuah rumusan tentang keutuhan ciptaan. Hal ini memang sangat disayangkan karena GKPPD juga bertanggung jawab atas alam dan lingkungan hidup. Untuk saat sekarang ini sudah merupakan hal yang mustahil jika gereja tidak memiliki misi yang konkrit dalam menjaga lingkungan hidup. Tetapi pada tahun 2005-2007 GKPPD telah bekerja sama dengan Yayasan Tanggul Bencana – Indonesia (YTB-I) dalam melaksanakan penghijauan di pinggiran laut Aceh Singkil dengan menanam puluhan ribu pohon bakau. Walaupun penanaman itu dilaksanakan akibat dari bencana Tsunami tahun 2004 yang silam, tetapi hal itu dapat merupakan sebuah titik berangkat (starting point) dalam meningkatkan kesadaran bagi gereja untuk terus menjaga lingkungan hidup ini.
IV. Tanggapan Etis
Allah telah memercayakan alam ini untuk dikelola dan dipelihara. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Manusia mengeksploitasi alam sesuka hati tanpa memikirkan hal buruk yang akan terjadi akibat eksploitasi tersebut. Manusia modern saat ini sudah sangat rakus. Akibat dari kerakusan itu manusia cenderung serakah sehingga hal ini mendorong manusia untuk mengesksploitasi alam secara berlebihan. Oleh sebab itu manusia merupakan satau-satunya yang bertanggung jawab atas kerusakan alam lingkungan ini.
Sementara itu, Allah memberikan mandat kepada manusia untuk menjadikan ciptaan ini menjadi berkat secara luas dan berkelanjutan bagi seluruh kehidupan sesuai dengan kehendak Allah. Jadi menurut penulis, tugas manusia adalah mengelola dan memelihara alam sebagai bagian dari ungkapan syukur kepada Tuhan dan menjadikan berkat bagi seluruh ciptaan Tuhan. Bukan memanfaatkan alam ini hanya untuk memuaskan hidup manusia itu. Manusia tidak boleh menjadi penguasa yang arogan terhadap ciptaan Allah hanya karena tugas pemeliharaan alam diberikan Allah kepada manusia. Manusia sebagai Imago Dei, tidaklah menunjukkan bahwa kesegambaran manusia itu sama dengan sifat-sifat Allah. Tetapi kesegambaran itu lebih cenderung mengungkapkan hubungan yang baik antara sesama ciptaan dengan pencipta.
V. Kesimpulan
1. Alam atau lingkungan hidup telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita untuk digunakan dan dimanfaatkan demi kesejahteraan manusia. Manusia dapat menggunakan alam untuk menopang hidupnya. Tetapi bukan hanya kebutuhan manusia menjadi alasan penciptaan. Alam ini dibutuhkan pula oleh makhluk hidup lainnya bahkan oleh seluruh sistem kehidupan atau ekosistem. Allah memiliki maksud dan tujuan yang baik atas seluruh ciptaannya. Manusia sebagai gambar Allah harus memelihara alam seperti sesuai dengan misi Allah terhadap ciptaannya.
2. Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya dan juga sebagai tubuh kristus harus berperan aktif dalam menjaga alam lingkungan. Tetapi pertama sekali gereja harus sadar bahwa ala mini memang sudah rusak dan krisis. Alam tempat gereja dan seluruh mahluk berdiam sedang diambang kehancuran. Maka gereja sebagai sebuah kekuatan moral harus memulainya dari daalam diri gerea itu untuk menjaga lngkungannya dari tangan-tangan yang merusak alam ini. Tidak hanya menjaga alam dari tangan-tangan jahil tetapi gereja harus melestarikan alam ini dengan melaksanakan program-progran penghijauan di sekitar gereja serta menganjurkan seluruh jemaat untuk menanami pohon di sekitar rumah masing-masing. Tentunya untuk hal yang lebih besar lagi gereja harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga, baik itu lembaga swadaya masyarakat, WALHI barangkali ataupun dengan pemerintah untuk menjaga lingkungan ini.
3. Sebab itu pelestarian alam juga harus dilihat sebagai wujud kecintaan kita kepada sesama sesuai ajaran Yesus Kristus, di mana salah satu penjabarannya adalah terhadap seluruh ciptaan Allah sebagai sesama ciptaan.





Read More → Gereja Dan Lingkungan Hidup

Rabu, 18 Maret 2009

PEMBERDAYAAN SIMATAH DAGING (Pemuda/i)DALAM GEREJA

Pendahuluan
Ai kene simatah daging I kessa siharapenken! Kalimat ini sangat sering kita dengar dari pembicaraan para orang tua kita masing-masing. Pesannya jelas, yakni mewariskan tugas dan tanggungjawab kepada pemuda sebagai generasi penerus. Harapan tadi disampaikan lewat beragam media. Mulai dari meja makan, ruang kelas, altar gereja, forum seminar sampai ke pidato politik.
Semua itu bukan tanpa alasan logis. Siapalah pula yang mudah menepis rasa khawatir saat ini. Zaman seolah menggiring pemuda ke tepi jurang ketidakpastian. Antara garang dan gamang, mereka meniti hidup yang terjal dan penuh liku. Dengan modal mental yang boleh dikata masih rapuh mereka harus menyongsong badai kenikmatan lahiriah yang membius.


PEMBERDAYAAN SIMATAH DAGING (Pemuda/i)DALAM GEREJA


Fakta banyak berbicara. Pemuda paling mudah disergap perilaku sesat yang berujung di dermaga kehancuran. Dunia mereka di persimpangan jalan manis menuju gereja dan jalan maut menuju penjara. Dan antrean di sepanjang jalur terakhir ini lebih banyak dijejaki oleh pemuda. Sebaliknya iring-iringan pemuda menuju gereja yang kian sedikit.
Darah gereja
Sulit menyanggah peran pemuda menjaga kelangsungan hidup gereja. Mereka itu darah gereja, termasuk GKPPD. Suka atau tidak, institusi gereja akan kering tanpa pemuda. Posisi suatu Jemaat lebih mudah terbaca di dalam “peta” GKPPD jika pemudanya aktif. Di lingkungan GKPPD sendiri ada Jemaat yang aktivitasnya tergantung pada pemuda. Tanpa mereka, GKPPD tak ubahnya artefak bisu, setidaknya dalam tampilan fisik.
Sebagai “darah” gereja maka sifat aktivitas pemuda sangat dinamis. Persis seperti darah dalam tubuh manusia, mereka terus bergerak untuk menyalurkan makanan ke seluruh jaringan Jemaat. Artinya, mereka diharapkan mampu menjadi pelaku aktif kegiatan pelayanan di setiap organ tubuh Jemaat (baca: seksi-seksi kategorial atau ritual-ritual gereja). Bahkan kegiatan itu sampai ke hal-hal yang kecil, tak ubahnya darah yang mengalir hingga ke ujung jari.
Tentu ada syaratnya. Darah mengalir di lorong-lorong pembuluhnya. Pemuda juga melayani karena – atau kalau – ada saluran yang tepat. Saluran mampat, tentu membuat darah menggumpal.
Memang di sinilah soalnya. Disadari bahwa di pundak pemuda diletakkan harapan tinggi. Tetapi “ruang” untuk mewujudkan harapan tadi cenderung sempit. Ada perasaan gamang dalam diri mereka. Bersandar pada tubuh GKPPD semata untuk mencari pengalaman partonduyon mungkin tidak sepenuhnya tercapai. Lebih tidak logis lagi, misalnya, jika memosisikan GKPPD sebagai arena peningkatan kompetensi berorganisasi. Kita tidak perlu malu mengakui, sebab memang sudah jadi rahasia umum.
Sejatinya peran konkret pemuda dalam gereja belum disebut secara jelas. Kalau AD/ART GKPPD dibaca secara jeli, tampak peran pemuda tidak disorot secara khusus. Semuanya serba generik. Maka tidak heran kalau kegiatan utama mereka selama ini terus berputar di sekitar peran-peran berikut: si jaka endhe, pengisi koor, si cekep organ, panitia retreat, si jalo peddah dan tugas-tugas, atau si palu giring-giring!
Peran figuran alias remeh-remeh? Tentu tidak sepenuhnya demikian, sebab kegiatan inti gereja memang berkisar di situ. Naif kalau berharap untuk mendongkrak peran itu ke pusat-pusat jabatan. Toh tidak ada jabatan duniawi yang mau dikejar di GKPPD. Apalagi kalau hanya sekedar jabatan Sintua.




Gereja,keberadaan dan fungsinya.

Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang terpanggil,walaupun tidak ada persetujuan para ahli tentang apakah terminologi ekklesia berasal dari idea ‘to call out’ (memanggil keluar) sebagai hasil dari kombinasi dua-kata ek-kaleo (Ekklesia adalah secular word dalam bahasa Yunani, biasanya berarti a gathering or assembly. Tapi orang Kristen mula-mula yang adalah berbahasa Yunani mengerti diri mereka sebagai ekklesia/or ekklesia tou theou berdasarkan pengertian dari “qahal Yahweh” dalam PL, lihat Robert Nelson, dalam bukunya The Realm of Redemption.

Jadi pengertian singkat akan gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan yaitu Yesus Kristus.
Gereja bukanlah kerumunan. Dalam perkumpulan atau kerumunan orang-orang bisa saja tidak saling kenal dan tidak saling peduli. Berbeda dengan gereja yang didalamnya ada satu tuntutan yang mana setiap individu ‘hadir’ didalam persekutuan itu. Ke’hadir’an’ itu menuntut agar setiap individu meninggallkan ‘aku’nya dan kemudian menjadi kita. Istilah kita menandakan bahwa setiap individu didalam ‘kita’ tersebut sudah saling kenal dan saling peduli.
Namun berdasarkan motif dari pemanggilan Allah (Band. Pemanggilan Abraham di Kej 12:1-4; Yes 42:6) yang bertujuan agar orang yang terpanggil harus hidup berdasarkan ajaran Allah (Eph 1:18; 4:1,4; 1 Tes 2:12; 1 Tim 6:12; Gal 5:8; 1 Pet 2:21); hidup dalam kesucian (1 Tes 4:7; 1 Pet 1:15; menjadi saksi Allah (1 Pet 2:9); menjadi berkat bagi orang lain (1 Pet 3:9); harus selalu belajar semakin mengenal Allah agar kita dapat bertumbuh kokoh dan dewasa dalam pemanggilan dan pilihan kita (2 Pet 1:3,10); orang yang dipanggil adalah bebas (hubungkan in dengan idea lahir kembali ) dan sekarang hanya menjadi kepunyaan Allah semata (1 Kor 7:22; Gal 5:13; Rom 1:6); orang orang yang terpanggil haruslah hidup setia kepada Allah sebagaimana Allah adalah setia (Ibr 3:1; Wah 17:14; 1 Tes 5:24], dan ide dari “memanggil ke luar” berarti melakukan pelayanan ke Allah dan manusia. Menjadi gereja berarti aktif dalam ibadah kepada Allah dan mewujudkan panggilan itu sehingga aspek dari koinonia, diakonia, dan menjadi saksi ke dunia (marturia) nyata ada. Melalui ketiga aspek inilah gereja berperan dalam mengarahkan dan mempersiapkan pemuda dalam menghadapi tantangan kini dan di sini.

Pemuda sebagai bagian dari persekutuan gereja
Pemuda adalah bagian dari koinonia, sehingga ia masuk dalam persekutuan kategorial. Dalam persekutuan in mereka di arahkan melalui PA, kebaktian pemuda, katekisasi dan percakapan pastoral. Melalui program diakonia gereja, pemuda ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu berkompetisi di level local, nasional dan internasional (peningkatan SDM).

Peran gereja dalam mempersiapkan dan membantu pemuda dalam menghadapi tantangan ini haruslah dilandaskan atas aspek agape (lihat: Mat 22:34-40; Mark 12:28-34; Luk 6:27-36; 10:25-28; 1 Kor 13; dan idea dari kesatuan (oneness) [lihat Ep 2: 11-22; 4:1-16; 1 Kor 12; band Rom 12:1-8; Fil 2:1-11; 1 Pet 3:8-12; Yoh 17:20-26; Kis 4:32-37) yang adalah sangat penting dalam mengerti akan apa itu gereja. Sehingga ada pernyataan bahwa dalam gereja, jemaat haruslah saling menopang dan menolong (Mat 6: 1-4; 2 Kor 8-10; Gal 6: 1-10; 1 Pet 4:9; 3 Jn 1:5-12; Kis 2:41-47), haruslah saling mengajar dan mengingatkan(1 Tes 5:12-22; 2 Tes 2:13-3: 15; saling mengerti satu sama lain (Luk 6:37-42; Rom 14-15:13), dan saling mengampuni (Mat 18:21-35; 2 Kor 2:5-11).

Maka adalah mandat dan tugas gereja agar pemuda mampu menjadi saksi di dunia, menjadi garam (Mat 3:13) dan terang (Mat 5:14). Sehingga generasi muda yang kini mayoritas mengidentitaskan dirinya berdasarkan what they have bergeser menjadi what they are. Di sini karakter dan integritas yang didasarkan iman berperan menentukan. Generasi muda kembali menjadi dirinya yang idealis, dinamis, berpengharapan, penuh semangat dan cita-cita. Mereka berani tampil beda tanpa takut untuk diasingkan seperti Yesus. Sehingga pemuda, baca juga gereja, tidak enggan untuk mengambil bagian di dalam civil society di dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia. Dan Pemuda dan Gereja hanya bisa berperan jika ia a. tidak sama dengan Dunia dan b. mempunyai pandangan dan konsepnya yang berdasarkan visi misi perwujudan kerajaan Allah didunia.
Pemuda dan pemberdayaan dalam gereja adalah issue yang hangat dan penting dibicarakan, mengapa? Karena ini menyangkut kepada masa depan gereja. Dengan kata lain bisa disebutkan bahwa jika pemuda gereja (anggota dan pengurus KPA) tidak diberdayakan sedini mungkin, maka gereja akan kehilangan peluang untuk memanfaatkan potensi pemuda yang besar itu. Melihat kepada populasi pemuda dalam gereja yang cukup signifikan, maka sebenarnya tugas gereja yang sangat penting dikerjakan adalah memberdayakan mereka.
Beberapa hal yang bisa dicatat sebagai kerugian gereja jika tidak memberdayakan pemuda dalam gereja antara lain Pertama, gereja akan kehilangan satu generasi. Maksudnya bahwa kesinambungan pelayanan yang ada dalam gereja pastilah kehilangan satu generasi, yakni pemuda (usia kategorial pemuda itu). Tentu gereja tidak mau kehilangan generasi tersebut, karena itu seharusnya gereja sejak melayani anak-anak, remaja dan pemuda, sejak saat itu gereja sudah harus punya program pembinaan dan pemberdayaan kepada mereka. Kedua, gereja kehilangan populasi terbesar dalam pelayanan. Dapat dicatat dengan baik bahwa usia kategorial pemuda dalam gereja menduduki peringkat yang sangat besar, jika dikalkulasikan dengan data statistic penduduk dunia 60 % adalah generasi muda, Indonesia mencapai 65 % adalah generasi muda. Jadi kalau kitab tidak memberdayakan populasi yang besar ini maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam gereja. Ketiga, gereja kehilangan masa depanya. Pemuda dan anak adalah masa depan gereja, karena itu gereja baik dalam tingkat sinodal maupun gereja lokal harus menggarap investasi untuk masa mendatang, karena pemuda dan anak adalah gereja masa depan.
Sekarang pertanyaan kita bagaimana melakukan pemberdayaan yang efektif kepada pemuda dalam gereja? Berdasarkan program dan kegiatan yang ada dan dilaksanakan oleh Departemen Pemuda dan Anak, maka dapat dicatatkan beberapa hal sebagai implementasi dari pemberdayan tersebut, yakni:
1. LIBATKAN PEMUDA DALAM PELAYANAN. Hal yang paling sederhana dan bisa dilakukan dalam gereja lokal untuk memberdayakan generasi muda adalah dengan melibatkan mereka dalam pelayanan. Mendorong para pemuda gereja untuk ikut aktif dalam pelayanan yang ada digereja mempuyai peluang yang besar untuk memberdayakan mereka, secara khusus mereka akan termotivasi untuk keterlibatan yang maksimal dalam pelayanan itu. Pada umumnya para pemuda yang terlibat dalam pelayanan sangat berpotensi untuk berkembang dalam kemampuan, talenta, bahkan karunia pelayanan. Rasanya hal ini bukanlah satu hal baru bagi kita, lihat saja di gereja kita masing-masing bagaima persentase keterlibatan pemuda dalam pelayanan yang ada? Kita bisa mengukur sendiri, mungkin 40-60 % atau lebih. Ada banyak tugas-tugas pelayanan yang bisa kita delegasikan kepada mereka.
2. TUMBUHKAN KEPERCAYAAN. Menumbuhkan kepercayaan dalam diri pemuda untuk terjun dan terlibat dalam pelayanan adalah point kedua untuk memberdayakan mereka. Maksudnya adalah bahwa ketika mereka (pemuda) terlibat dalam pelayanan gerejawi, hal yang penting kita sadari sebagai pemimpin adalah terus menumbuhkan kepercayaan mereka untuk tetap terlibat melayani. Hal ini menjadi sangat penting karena para pemuda membutuhkan kepercayaan dari para pemimpinnya. Bagaimana caranya kita menumbuhkan kepercayaan mereka yakni dengan memberikan dorongan dan motivasi bagi mereka, tidak hanya itu dalam waktu tertentu juga kita bisa memuji prestasi dan keberhasilan mereka dalam pelayanan. Sebisa mungkin hal yang bisa kita kerjakan untuk menumbuhkan kepercayaan mereka adalah dengan menambahkan tanggung jawab bagi mereka yang telah lulus dalam satu tanggung jawab tertentu.
3. KEMBANGKAN POTENSI BERDASARKAN KARUNIA PELAYANAN. Salah satu yang tidak boleh dilupakan oleh para pemimpin gereja dalam hal pemberdayaan pemuda yakni mengem-bangkan potensi yang mereka miliki. Potensi yang kecil jika terus menerus diasah (dibina dan dididik) maka akan berubah menjadi potensi yang besar, sebaliknya potensi yang besar jika dibiarkan begitu saja maka dalam waktu tertentu akan berangsur-angsur surut bahkan bisa saja lenyap dari peredaran. Jadi pemberdayaan harus dilakukan dengan mengembangkan potensi yang dimiliki para pemuda. Salah satu cara yang efektif untuk memberdayakan mereka adalah mendelegasikan tugas berdasarka karunia yang mereka miliki, maksudnya seseorang kita tempatkan atau tugaskan pada tugas yang sesuai dengan karunia pelayananya. Hal ini akan mendorong mereka lebih bersemangat, lebih bersungguh-sungguh dan termotivasi untuk mengerjakan tanggung jawabnya. Tingkat efektifitas pelayanan sangat mungkin terjadi jikalau pemimpin memposisikan seseorang pada bidang pekerjaan yang bukan hanya disukai, melainkan sesuai dengan karunia yang dimiliki para pemuda.
4. PERSIAPKAN MENJADI PEMIMPIN DI MASA MENDATANG. Untuk jangka panjang dalam rangka mempersiapkan masa depan gereja, maka salah satu hal yang perlu dikembangkan gereja untuk pemberdayaan pemuda adalah dengan mempersiapkan mereka sebagai pemimpin di masa yang akan datang. Maksudnya adalah bahwa jika kita sepakat bahwa pemuda adalah masa depan gereja, berarti pemimpin di masa yang akan datang bagi gereja adalah mereka. Patutlah kita mempertimbangkan satu upaya dan usaha bagaimana menyiapkan pemuda itu untuk menjadi pemimpin. Dalam hemat saya salah satu yang bisa dikerjakan oleh gereja adalah memberdayakan secara maksimal, bukan saja hanya terkait pada ketiga point di atas, namun gereja harus berani menginvestasi-kan sesuatu bagi kaum muda sehingga mereka dipersiapkan sebagai pemimpin yang akan datang. Investasi itu terdiri dari berbagai macam antara lain mendidik mereka dengan proyek-proyek pelatihan, mengembangkan mereka dengan lokakarya-lokakarya kepemimpinan dan hal yang menyangkut dengan kebutuhan pemimpin gereja, dan tidak tertutup kemungkinan gereja menyediakan fasilitas studi di dalam dan luar negeri untuk para pemuda yang potensial dan disiapkan sebagai pemimpin gereja.
Pemberdayaan bukanlah hal yang baru bagi kita, kalau kita melihat catatan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sangat kaya dengan proyek-proyek pemberdayaan. Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru adalah tokoh ulung yang memberdayakan murid-murid-Nya, karena itulah hasilnya sampai sekarang ini kita melihat gereja-gereja lahir dan hadir di belahan dunia ini. Ini adalah fakta nyata dari pemberdayaan. Jika kita ingin melihat masa depan gereja dengan gemilang, gereja harus melakukan pemberdayaan.
Kesimpulan
Gereja dan pemuda adalah dua buah unsur yang tak terpisahkan. Para pemuda dan pemudilah yang merupakan asset potensial dalam gereja. Bukan basa-basi kita mengatakan bahwa “student today, leader tomorrow” (Pelajar hari ini, besok pemimpin”. Para pemuda gereja (Simatah daging)-lah yang akan menjadi gereja masa depan. Simatah daginglah yang akan menjadi pemimpin gereja masa yang akan datang. Nah, kalau gereja mau bagus kedepan, kalau gereja mau bertahan dalam dunia yang sudah dilanda krisis multi dimensional termasuk krisis iman dan krisis moral, maka gereja harus memprioritaskan pelayanan terhadap pemuda.
Akhirnya didalam fungsi dan tugas itulah gereja harus selalu dapat dan terus menerus melakukan pelayanan yang holistik tertutama terhadap pemuda (simatah daging) agar perkembangan hidup persekutuan dan keberadaan gereja dapat bertahan ditengah-tengah gelombang tantangan yang besar. Terima kasih



Read More → PEMBERDAYAAN SIMATAH DAGING (Pemuda/i)DALAM GEREJA

MENGAPA †UHAN ALLAH MEMILIH SALIB?


Salah satu perayaan terbesar umat Kristiani adalah Paskah. Paskah artinya melewati atau melampaui. Dalam Perjanjian Lama, Paskah pertama dirayakan umat Yahudi adalah ketika mereka dapat melewati tantangan yaitu menyebarai Laut Teberau ketika Musa membawa mereka keluar dari Mesir perhambaan bangsa Yahudi. Perayaan itu dirayakan dengan memakan roti tidak beragi.hari itu juga berarti hari kemenangan bagi bangsa Yahudi atas pertolongan Tuhan yang membebaskan mereka dari Mesir.
Kemudian dalam Perjanjian Baru, bangsa Yahudi masih merayakan Paskah tersebut seperti yang ada dalam Perjanjian Lama. Tetapi umat Kristen yang dipelopori oleh murid-murid Yesus merayakan Paskah setelah kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian.


MENGAPA †UHAN ALLAH MEMILIH SALIB?
(Renungan Paskah)


Kedua hal dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidaklah memalingkan makna Paskah tersebut karena dalam perjanjian Baru, Paskah juga berarti melewati atau melampaui. Juga kebangkitan Yesus merupakan hari kemenangan atas maut yang menguasai dunia. Singkatnya Paskah berarti hari kemenangan bagi umat Kristiani.
Bagi umat Kristiani, Paskah adalah hari dimana Yesus Kristus bangkit mengalahkan maut atau kematian. Yesus yang mana adalah Tuhan itu sendiri rela menyangkal diri dan mengosongkan diriNya untuk disiksa dan disalibkan hanya untuk menebus umat manusia yang sudah jatuh kedalam dosa.
Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Yesus yang juga Allah memilih jalan salib sebagaijalan penebusan bagi umat manusia yang berdosa? Apakah tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh. Jalan yang sedikit gampang dan tidak perlu sampai menderita? Tidakkah Allah punya hak penuh atas jalan yang ingin Ia lalui? Tetapi Allah sebenarnya tidak dapat doselami secara sepenuhnya karena Ia adalah Allah yang transenden. Bukan suatu hal irrasional tetapi karena transirrasional. Tetapi barangkali kita sedikit dapat memahami mengapa Allah memilih jalan yang laknat tersebut.
Bisa saja Allah memilih jalan yang mudah, tidak sakit dan tidak perlu harus menderita. Tetapi Allah tidak memilih jalan yang mudah tersebut. Ia memilih jalan penderitaan supaya IA menunjukkan betapa besar kasihnya kepada manusia sampai-sampai Ia harus menderita demi menebus manusia berdosa itu. Artinya, Allah menyatakan kasihNya kepda manusia dengan jalan penderitaan. Allah ingin memberitahukan kepada manusia itu bahwa kasih itu begitu mahal. Harus dinyatakan dalam tindakan nyata dan bahkan sampai mengorbankan nyawa demi kasih itu sendiri. Itulah sebabnya Allah memilih jalan penderitaan itu. Allah juga menginginkan kita untuk meneruskan kasih yang mahal tersebut dengan mengasihinya dan menjalankan kehendak Allah tersebut. Kita dituntut untuk mengerti dan memahami kasih itu dengan tidak hanya melalui kata-kata tetapi dengan perbuatan. Itulah tandanya kita menghargai penebusan Allah pada kita yang berdosa ini. Karenanya marilah kita manusia yang berdosa ini mengasihi sesama kita tanpa terkecuali sebagai tanda kita orang-orang yang telah ditebus dengan harga yang mahal.

Read More → MENGAPA †UHAN ALLAH MEMILIH SALIB?

Menjadi Murid Kristus

Jika kita ingin melanjutkan sekolah ke perguruan Tinggi, kita terlebih dahulu mengikuti ujian. Kalau ternyata nilai kita kurang, maka kita tidak akan masuk ke PT tersebut. Atau jika kita ingin masuk ke sekolah Kepolisian, penerbangan atau kemiliteran, maka diperlukan syarat tinggi badan minimal 165 cm. jika itu tidak terpenuhi maka ada baiknya kita tidak usah mencobanya, dan mungkin banyak lagi. Pokoknya untukmasuk sekolah manapun ada syaratnya dan hal itu memang diperlukan demi kelanjutan kegiatan sekolah tersebut.

Menjadi Murid Kristus



Lalu apa syarat masuk jika ingin menjadi murid Kristus. Yesus berkata: “Jikalau seorang dating kepadaku dan ia tidak membenci bapanya atau ibunya, bahkan istrinya serta anak-anaknya, saudaranya laki-laki dan perempuan dan bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”.
Syarat ini pasti terlalu berat bagi kita kalau kita mengartikannya secara harafiah. Ucapan yang membingungkan ini langsung diberi penjelasan dengan dua buah gambaran:
1. Siapakah diantara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah rumah tidak duduk dahulu membuat anggaran biaya.
2. Atau, Raja manakah yang mau pergi berperang melawa raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan 10.000 tentara ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan 20.000 tentara? Segera setelah memberi 2 gambaran tersebut Yesus membuat kesimpulan “Demikian pulalah tiap-tiap orang dianatara kamu yang tak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.
Saudara sekalian, gambaran di atas jelas bahwa maksud ucapan Yesus yaitu ada pertimbangan, resiko dankonsekwensi jika kita ingin menjadi murid Kristus. Menjadi murid Kristus berarti mengikatkan diri kita dengan Yesus. Keterikatan dengan Yesus hany mungkin terjadi jika kita melepaskan segala keterikatan kita yang lama yang dapat bertolak belakang dengan Yesus. Itulah sebabnya Yesus mengambil contoh keterikatan dengan keluarga. Jawaban Yeus tentang membenci bapanya, ibunya, saudaranya laki-laki dan perempuan bukanlah diartikan secara harafiah. Maksud dari Tuhan Yesus adalah barang siapa yang ingin menjadi muridNya, maka komitmen pada Yesus harus diletakkan di atas segala kepentingannya yang lain. Bisa saja keinginan kita bertentangan dengan apa yang Yesus. Tetapi kita harus dapat mengalahkan keinginankita dengan mengikuti teladan Yesus.
Melepaskan diri dari keterikatan memang tidaklah mudah dan dibutuhkan pengorbanan serta kesediaan untuk menderita. Barang siapa tidak memikul salibnya ia tidak dapan\t menjadi muridKu. Kata Yesus. Ungkapan ini berarti bahwa mengiktu Yesus tidak boleh diserta dengan motivasi untuk memperoleh keuntungan datau sukses ini dan itu. Mungkin kita berfikir bahwa jika saya mengiktu Kristus maka saya akan menjadi pejabat, orang terhormat, orang besar dsb. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya yaitu harus menderita dan resiko-resiko yang timbul sepanjang jalan. Mengiktu Kristus bukanlah supaya segala keinginan kita terkabul dan terpenuhi tetapi sebaliknya yaitu belajar menempatkan keinginan kita dibawah keinginan Tuhan Yesus. Mengiktu Yesus juga bukan berarti bahwa kita akan jauh dari segala cobaan dan bahaya tetapi sebaliknya. Yohanes 15:7-8 dikatakan: Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.". dapatkah kita memenuhi syarat itu? Tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi syarat tersebut. Tentunya kita sebagai orang Kristen sangat sedih dengan hal tersebut. Begitu juga dengan murid-murid Yesus pada waktu itu. Tetapi Yesus menanggapi kesedihan itu. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah (Lukas 18:27).
Ya, Allah sendirilah yang memungkinkan kita menjadi muridNya. Anugerah Allah-lah yang memungkinkan hal itu. Kita diterima menjadi murid Kristus bukankarena kita memenuhi syarat tersebut melainkan karena Tuhan menganugerahkannya kepada kita. Salam.



Read More → Menjadi Murid Kristus

Berperasaan Seperti Kristus

Sauudara-saudara sekalian, manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia memiliki akal dan pikiran serta perasaan. Akal yang mampu untuk berfikir denagn baik, dan pikiran yang dapat mengidentifikasi, menolak, menjumlah dan sebagainya. Sementara perasaan yang dapat mengangumi, mengasihi, peduli serta menyesali dan sebagainya. Perilaku mengangumi, mengasihi, menyesali tersebut menjelsakan bahwa manusia dapat belajar menggunakan perasaan. Maka manusia dapat berbuat dengan fikiran dan perasaan.
Perasaan sangatlah penting digunakan untuk bertindak dalam banyak hal, karena perasaan akan menggerakkan hati kita oleh rasa iba atau belas kasihan.


Berperasaan Seperti Kristus


Jemaat Filipi juga menaruh belas kasihan kepada Paulus ketika ia berada di penjara sebagai tawanan. Melalui Efaproditus, jemaat Filipi mengunjungi Paulus dengan mendoakan serta membawa bantuan kepadanya. Hal ini berarti rasa belas kasih jemaat Filipi kepada PAulus tidak berubah sejak awal. Inilah yang membuat Paulus sangat bersukacita (Filipi 4:10).
Hal yang serupa juga diingiinkan Paulus kepda kita manusia modern saat ini. Paulus menginginkan kita untuk berfikir dan berperasaan seperti Kristus seperti yang sudah dipraktekkan oleh jemaat Filipi kepadanya. Teladan KRistus yang sudah dibuktikan semasa hidupNya di dunia ini adalah contoh yang harus kita teladani sebagai pengikut Kristus. Perwujudan pikiran dan perasaan Kristus adalah cirri-ciri orang yang beriman. Buah fikiran dan perasaan Kristus adalah mengambil rupa seorang hamba menjadi sama dengan manusia “merendahkan diri” dan taat sampai mati. Demikianlah kita tahu bahwa Yesus adalah rupa Allah dan ia adalah Allah. Pikiran dan perasaan seperti inilah yang seharusnya kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena dengan demikian kita telah meneladani Yesus dalam hidup kita. Tetapi dapat kita lihat bahwa manusia saat ini hati nuraninya seolah-olah telah “mati”, tidak lagi berperikemanusiaan. Kesombongan sudah menjadi sifat dasar manusia sekarang ini baik di sekolah, bermasyarakat, berpolitik dan bahkan bergereja. Sudah sangat sulit untuk menemukan manusia yang mau merendahkan diri yang mau berwelas asih terhadap sesame manusia yang membutuhkan belas kasihan.
Manusia sudah tahu bahwa sesuatu itu tidak baik, tetapi masih juga dilakukan. Manusia tahu apa itu belas kasihan tetapi tidak nampak dalam praksisnya. Inilah yang terjadi jika manusia hanya menggunakan fikiran tetapi mengalahkan perasaan. Hati nurani manusia sudah tidak lagi berfungsi. Terlalu menggunakan fikiran yang sangat menonjolkan ego dari manusia itu. Seolah-olah manusia itu tidak lagi memerlukan manusia yang lain. Sementara tidak mungkin manusia hidup tanpa orang lain, karena manusia saling bergantung terhadap manusia yang lainnya. Pada akhirnya terserah kepada kita, apakah kita hanya menggunakan pikiran atau kedua-duanya.
Tetapi satu yang pasti, ketika pikiran dan perasaan digunakan dalam bertindak maka hasilnya akan mendatangkan sukacita bagi diri kita sendiri dan juga orang lain. Salam.



Read More → Berperasaan Seperti Kristus

Jumat, 06 Maret 2009

Apakah Hidup itu………?

Sebuah pertanyaan yang amat memerlukan jawaban yang sungguh-sungguh, jawaban yang jernih, lugas dan tepat. Karena bicara tentang hidup dan artinya adalah wujud pengalaman manusia paling agung, dan jika memahaminya dengan benar, memamfaatkannya dengan benar, itulah kehidupan itu.
Sebelum membahas lebih jauh marilah kita mengamat-amati manusia, kepribadian mereka, serta pelbagai kegiatan sehari-hari, dan oleh belajar dari kehidupan mereka itu maka kita dapat percikan hikmat dan pengertian yang dalam tentang hidup dan juga kehidupan.


Apakah Hidup itu………?



Mengamati kebudayaan manusia, dan adat istiadatnya, serta pelbagai aktivitasnya seolah-olah menunjukkan bahwa kehidupan manusia adalah kebudayaan, dan kegiatan-kegiatan yang menyangkut kebudayaan itu. Kemudian dalam pelbagai tahapan-tahapan kehidupan, mulai sejak lahir hingga mati, manusia mempunyai upacara-upacara dan pesta-pesta. Misalnya, waktu anak lahir, manusia mengadakan upacara, tamat pendidikan, mereka mengadakan upacara, waktu menikah mengadakan upacara, dan setiap tahapan ada upacara dan selalu disertai makan-makan. Tampaknya hidup itu adalah bergerak, bekerja dan makan.

Hidup adalah sebuah pengalaman, sebuah perjalanan, sebuah kesibukan, sebuah kegiatan meraih prestasi, sebuah dedikasi, sebuah strategi untuk mendapat kedudukan, kekayaan dan kehormatan. Sedangkan pada posisi lain adalah hidup itu bagaikan waktu yang akan berlalu, melayang bagaikan mimpi, sebuah teka-teki yang belum terjawa, atau hari depan yang belum pasti. Yah….mungkin hidup itu sebuah perjuangan, sebuah kemelut, sepotong cerita atau mungkin sebuah berita, yang hanya diisi dengan bekerja, nekeja keras lebih keras, sebuah catatan cerita, cerita pengalaman tentang bekerja keras dan hasil-hasilnya akan menjadi berita baik kepada orang lain.




Apakah Hidup itu bagi Anda?


Hidup adalah tantangan – hadapilah
Hidup adalah keindahan – kagumilah
Hidup adalah tragedi – tangisilah
Hidup adalah tugas – tekunilah
Hidup adalah misteri – takjubilah
Hidup adalah impian – wujudkanlah
Hidup adalah perlombaan – menangkanlah
Hidup adalah janji – penuhilah
Hidup adalah teka teki – jawablah
Hidup adalah perjalanan – tempuhlah
Hidup adalah anugerah – syukurilah
Hidup adalah kenyataan – telanlah
Hidup adalah kegembiraan – bagilah
Hidup adalah petualangan – lakonilah
Hidup adalah kesempatan –memanfaatkanlah
Hidup adalah pemberian – hargailah
Hidup adalah cinta – terimalah dan berilah
Hidup adalah perjuangan - tanggunglah
Hidup adalah dambaan - raihlah
Hidup adalah .............

Silahkan Anda meneruskan daftar ini. Menurut Anda, apakah hidup itu? Di antara banyak pernyataan tadi, mana yang Anda paling setujui? Sebaliknya, mana yang Anda tolak? Mengapa ?
Mungkin Belum pernah terpikir oleh Anda untuk merumuskan apa itu hidup. Memang, tidak banyak orang mempunyai kesempatan untuk berfalsafah tentang apa arti hidup. Yang penting kita menjalani hidup tiap hari. Kita sudah cukup sibuk dengan segala kegiatan hidup, sehingga tidak ada waktu untuk termenung tentang arti hidup.
Memang hidup ini penuh dengan kesibukan yang melelahkan. Karena itu kita beristirahat untuk memperoleh kesegaran. Lalu, kesegaran itu kita manfaatkan untuk apa? Kesegaran itu kita gunakan untuk melanjutkan kesibukan yang tadi. Begitulah kita tenggelam dalam lingkaran yang tidak ada habisnya; sibuk – lelah – istirahat - segar – sibuk lagi – istirahat lagi – segar lagi – sibuk lagi dan seterusnya. Kalau dipikir, bukankah itu pun dilakukan oleh seekor burung atau seekor kambing? Mereka pun menjalani lingkaran itu. Kalau begitu apa bedanya kita dari seekor burung atau kambing?
Apa anda berpikir seekor burung atau kambing dapat termenung dan berefleksi tentang arti hidupnya? Saya kira tidak. Karena itu agaknya inilah yang paling membedakan kita dari burung atau kambing. Kita bisa merenungkan arti hidup kita.


Pemazmur mengatakan : “Hidup yang bahagia adalah panjang umur, yang kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan” Mazmur 90. ini adalah sebuah kenyataan. Inilah dunia kita, dunia kesengsaraan. Tetapi disatu sisi adlah kenyataan lainnya. Bagi burung murai hidup adalah senandung dalam lagu, senandung pengalaman hidup, derita dan kebahagiaan; kalau landak mengartikan hidup pergumulan dan perjuangan, itu menuntut kesungguh-sungguhan hidup dan kerja keras supaya berhasil; kalau kembang ros menghendaki pengembangan dalam hidup, kupu-kupu menunjuk pada sukacita, lalat mendengungkan hidup sementara, semut yang rajin dan tekun, burung elang menghendaki kebebasan; angin sepoi berbisik mimpi dan angan-angan hati; guru besar menunjuk pada hidup itu sebagai sekolah tempat belajar orang – orang muda, capung menunjuk pada rahasia dan hidup sebagai awal yang akan datang, bagaimana dengan anda?

Hidup adalah sesuatu yang indah . hidup adalah sebuah perjalanan, yang di dalam setiap langkah perjalanan itu ada keindahan. “Adalah ia bagaikan suatu galeri seni”, kata Sidney Hewton : “Hidup yang berisi hal-hal yang indah” Tetapi boleh juga ‘Menjadi suatu kuburan hidup’. Artinya manusia di dalam perjalanan hidupnya membuat hidup ini menjadi bagaikan galeri seni atau pun menjadi kuburan hidup. Itu tergantung kepada seseorang, menjadi apa hidupnya. Jika mau membuatnya sesuatu yang indah, maka pikiran harus dijaga dengan baik, dipelihara utuh dengan bijaksana. Pikiran perlu diisi keoptimisan tentang hari esok, keceriaan, cinta, keindahan, kebenaran, kesehatan baik, kejujuran, kesetiaan, kemauan bekerja dan berusaha, harmoni dan kekuatan, memikirkan yang pasitif agar positif yang datang (Filipi 4:8). Dan sebaliknya, kemalasan, putus asa, kecurigaan, kecemburuan, kedengkian dan benci, bohong dan dusta, dendam dan permusuhan, perlu dikunci dan tidak perlu membuka pintu masuk untuk mereka.






Apakah hidup itu? Apakah hidup hanya kebutulan saja……..?

Hidup itu … bukan kebetulan ! Kebetulan saja, kita bertemu disini. Kebetulan, kita tadi tidak lewat jalan itu. Kebetulan saja saya membawanya saja. Kebetulan, ada orang yang menolong. Kebetulan, kita tidak sampai …….

Perkataan yang demikian tanpa kita sadari sering kita ucapkan. Tanpa sadar pula mengakatan yang demikian. Tetapi jika demikian apakah setiap hari, setiap saat yang kita lewati itu kebetulan belaka. Yang kita alami “hanya” sebuah kebetulan. Bahkan, apakah mulai pagi hingga malam hari hidup kita ini “hanya” kumpulan kebetulan-kebetulan saja ?

“Apakah hidup itu?” Inilah sebuah pertanyaan yang patut direnungkan sebaik-baiknya. Memahami arti hidup sebaik-baiknya adalah hidup itu sendiri yang menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Memahami hidup sedalam-dalamnya memerlukan sebuah perenungan, sebuah hikmat dari atas.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana!” Mazmur 90:12. menghitung-hitung adalah sebuah perenungan, sebuah meditasi berpikir. Sebab kehidupan adalah hasil berpikir dan bertindak. Inilah kebijaksanaan itu, yakni kesanggupan kita memikirkan kehidupan itu sendiri, dan itulah hidup itu.



Read More → Apakah Hidup itu………?

Minggu, 01 Maret 2009

TATA DUNIA BARU

Yohannes-Perintis jalan, adalah seorang tokoh yang dilupakan dalam perayaan-perayaan Kristen. Ia dilupakan karena memang ia bersedia dilupakan. Yohaneslah pelopor seorang yang akan datang (yaitu anak Allah yang Maha Tinggi) yang akanmenebus manusia dari dosa-dosa. Nubuatan dalam Maleaki 3:1 terpenuhi dalam diri Yohanes Pembaptis yang mempelopori kerajaan baru yaitu Kerajaan Allah/sorga atau Pemerintahan Allah yang mana Allah turun ke dunia dalam Yesus Kristus.

TATA DUNIA BARU
(ayat bacaan: Matius 11:11-19)


Yohannes-Perintis jalan, adalah seorang tokoh yang dilupakan dalam perayaan-perayaan Kristen. Ia dilupakan karena memang ia bersedia dilupakan. Yohaneslah pelopor seorang yang akan datang (yaitu anak Allah yang Maha Tinggi) yang akanmenebus manusia dari dosa-dosa. Nubuatan dalam Maleaki 3:1 terpenuhi dalam diri Yohanes Pembaptis yang mempelopori kerajaan baru yaitu Kerajaan Allah/sorga atau Pemerintahan Allah yang mana Allah turun ke dunia dalam Yesus Kristus.
Yesus Kristus datang kedunia denganmembawa misi yang berpusat pada Kerajaan Allah.
Tetapi dalam ayat 12 dikatakan bahwa Kerajaan sorga diserong dan mencoba untuk menguasainya. Artinya mereka menjauhkan Kerajaan Allah dari orang-orang dengan bejalan merintangi orang-orang yang inginmasuk kedalam kerajaan itu. Mengapa?
Sebelumnya, kita harus tahu dulu apa itu kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukanlah sebuah kerajaan yang berlandaskan hukum-hukum kristiani, bukan juga kerajaan kristiani. Kerajaan Allah adalah Pemerintahan Allah. Suatu kehidupan dimana Allah sendiri memerintah segala sesuatu dengan sepenuhnya. Dimana budaya-budaya yang manipulatif tidak lagi memegang hegemoni.
Misi tersebut adalah menawarkan alternatif Kerajaan Allah terhadap tata kehidupan dunia. Pemerintahan Allah adalah pernjugkirbalikan total dan radikal serta menyeluruh dari semua norma yang ada. Kristus menawarkan sebuah tata dunia dan tata kehidupan yang sama sekali baru. Inilah faktor yang sebenarnya mengapa orang-orang menjauhkan Kerajaan Allah itu dari manusia yang lain dengan merintangi orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya.
Manusia modern saat ini hidup dalam budaya-budaya yang manipulatif, bail dalam segi Politik, Ekonomi dan Agama. Kita dapat melihat kegiatan politik di sekitar kita. Yang ada adalah manipulasi kekuasaan, cermati juga kegiatan ekonomi disekitar anda. Yang berlaku sekrang ini adalah kegiatan siapa memanipulasi siapa sehingga mendapatkan keuntungan yang banyak dengan cara manipulasi., begitu juga dengan agama. Betapa manusia memanipulasi konsepsi tengtang Allah sedemikian rupa guna membenarkan tindakan-tindakanmanipulatif manusia. Nama Allah dan ayat-ayat suci dimanipulasi untuk mencapai keuntungan politik dan mampu mempertebal kantong.
Inilah tata kehidupan manusia saat ini yang manipulatif hampir disegala bidang kehidupan manusia itu serta menghancurkan. Dan inilah yang hendak dihancurkan oleh Yesus Kristus dan bukan hanya untuk menwarkan keselamatan pribadi melainkan mewujudkan sebuah dunia dan tata kehidupan yang baru. Bukanmendirikan kerajaan Kristiani tetapi memperkenalkan Tata kehidupan yang baru yaitu Kerajaan Allah. Tidak hanya menciptakan manusia baru tetapi juga angit dan bumi yang baru.
Sebab itu Yohanes berkat: “bertobatlah … Kerajaan Allah sudah dekat”. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.
Untuk itu pertobatan pribadi memang perlu, tetapi tidak cukup. Hanya tukar agama seperti tukar baju juga tidak cukup. Misi Yesus adalah misi kita juga, yaitu memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu, Kerajaan Allah jangan kita rimantisasikan sebagai sebuah kehidupan ideal disana dan nanti.
Kerajaan Allah tersebut mempunyai relevansi langsung dalam hidup kita disini dan disini. Kerajaan Allah ada di tengah-tengah kita. Tugas kitalah untuk mengaktualisasikannya dalam hidup sehari-hari. Untuk itu mari kita mulai dengan dan dari diri kita sendiri supaya terciptalah pemerintahan Allah yang sesungguhnya yaitu tata dunia dan tata kehidupan yang sama sekali baru. Shalom.




Read More → TATA DUNIA BARU

Sabtu, 28 Februari 2009

Kuatir!!!!!!!!


Persoalan hidup selalu singgah di tengah-tengan kehidupan kita, tanpa terkecuali. Selama kita di dunia ini persoalan akan selalu ada pada kita. Ini terjadi karena dalam dunia inilah manusia itu melata mencari segala sesuatu yang diinginkan dan dibutuhkan serta yuang dicita-citakan oleh manusia itu. Tidak terhindarkan, karena pencarian itu banyak persoalan-persoalan yang tiombul dan dating kepada manusia itu. Walaupun cita-cita manusia itu luhur, bukan berarti persoalan tidak ada.
Persoalan itu dapat memberikan dampak yang positif maupun dampak yang negative.

Kuatir!!!!!!!!


Tergantung motivasi manusia itu untuk meneruskan pencariannya. Tentunya manusia itu bisa kuatir akan kelangsungan pencariannya tersebut. Oleh sebab itu, dampak dari persoalan hidup itu adalah kuatir. Sangat banyak kekauatiran manusia akibat cita-citanya itu. Kuatir akan biaya hidup, kuatir akan pakaian, kuatir akan masa depan anak. Boleh dilihat bahwa kekuatiran tersbut adalah hal-hal yang paling dekat dengan hidup kita itu sendiri. Tentunya kita tidak begitu kuatir kalau-kalau terjadi pulusi udara yang menyebabkan banyak penyakit. Karena apa? Karena hal itu masih jauh dari pikiran kita. Takut kalau hari tua nanti tidak ada yang merawat, gaji pension tidak cuku, dll. Tetapi persoalan yang paling besar sebenarnya bukan ketakutan akan kekurang-kekurang tersebut. Tetapi ketakuan manusia akan hal-hal yang belum terjadilah. Mark Twin mengatakan: “Aku punya banyak kekuatiran dalam hidup ini, tapi kebanyakan dari itu tidak pernah terjadi”.
Seperti cerita tentang kekuatiran. Kekuatiran yang sudah terlalu jauh. Ceritanya begini:
Pada suatu malam seorang pendeta menerima telepon dari seorang ibu. Ada apa bu? Tanya pendeta itu. Begini Pak. Saya selalu kuatir. Jawab ibu tersebut. Kuatir apa Bu? Saya ini seorang janda pak, anak saya dua laki-laki. Apa yang ibu kuatirkan? Lanjut pendeta itu. Saya kuatir kalau nanti anak saya sudah besar dan menikah, dan menantu saya tidak saying pada saya, sedang saya sakit-sakitan, saya akan ikut siapa nanti Pak? Apakah ibu sedang sakit? Tanya pendeta. Tidak. Jawab si Ibu. Apakah anak ibu sudah punya pacar? BElum Pak. Sudah berapa tahun umur mereka, dan dimanakah mereka sekarang bekerja? MEreka masih kecil Pak, Ini mereka tidur disebelah saya. Astaga kata pendeta itu.
Dari cerita tersebut, seorang ibu yang kuatir akan hal-hal masih belum terjadi dan mgkn belum pernah terjadi dalam hidupnya telah membuat ia begitu takut akan hal tersebut. Memang kekuatiran sering menyakitkan, menyusahkan, menghilangkan sukacita yang seharusnya ada. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kekuatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34). Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filiphi 4:6). Salam.




Read More → Kuatir!!!!!!!!

Jumat, 27 Februari 2009

Bagaimana Hidup Anda


Kesan pertama adalah abadi. Kesan yang bagaimanakah yang Anda tinggalkan pada orang yang Anda temui atau kenal? Dalam jangka hidup 70 tahun, kita dapat bertemu dengan ratusan ribu orang. Dari antara sekian banyak, berapa orang kah yang terkesan dengan kebaikan atau keburukan Anda?



Bagaimana Hidup Anda
Dapat Berkesan Kepada Orang Lain


Jika Anda ingin memberi kesan yang baik kepada orang lain, tentu ada caranya. Dan dalam uraian yang singkat ini, kita akan mempelajari lima cara tentang bagaimana menciptakan dampak atau kesan yang abadi kepada sesama.

1. Kepribadian yang Sebenarnya
Kepibadian yang sebenarnya adalah kepribadian yang terbuka kepada orang lain. Hidupnya bagaikan suatu kaca yang tembus pandang, tidak terselubung dengan kemunafikan.

Hal yang utama dalam memberantas kemunafikan yang menyelubungi hidup seseorang adalah introspeksi diri. Artinya, melihat kedalam diri sendiri. Seorang tokoh dari tiongkok pernah barkata : “Jika Anda menemui seorang yang baik, teladanilah dia. Jika anda menemui seorang yang jahat, selidikilah diri Anda.”

Menyelidiki atau memeriksa diri adalah langkah awal dari kehidupan yang sebenarnya. Menyadari akan kekuatan dan kelemahan diri sendiri adalah ciri kepribadian yang sehat. Menerima diri sendiri sebagai mana adanya dengan segala kakurangannya dan kenyataannya adalah ciri kematangan mental seseorang.

Menyadari dan menerima kenyataan, memang sukar untuk dilakukan. Mengakui bahwa Anda adalah seorang yang tidak jujur dan curang adalah perbuatan yang menyakitkan. Oleh karenanya, tidak sedikit orang yang lari dari kenyataan dan mulai memasang topeng atau kedok dan menipu orang lain dan dirinya sendiri.

Menipu diri adalah salah satu cara untuk membela diri dan menutupi keberadaan kita yang sebenarnya. Memiliki kepribadian yang sebenarnya berarti hidup terbuka dan siap untuk diselidiki, dan Anda pasti tahu bahwa tidak terdapat kecurangan di dalamnya. Kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain adalah modal besar agar hidup Anda dapat berkesan kepada orang lain. Jika hidup Anda tidak mengesankan, mungkinkah karena Anda hidup dalam kemunafikan?

2. Sifat Setia
Kesetiaan adalah sifat pribadi yang tidak tergantung pada keadaan yang menyenangkan atau mengecewakan. Sifat setia dapat terjamin bila Anda dapat membuat suatu janji. Janji itu harus ditepati, entah melalui keadaan yang menyenangkan atau tidak, hujan atau tidak.

Sifat setia juga terlihat dalam melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab. Antusias (kegairahan) untuk bekerja tidak kunjung padam dari permulaan sampai selesai. Bekerja untuk mejalankan tugas yang dipercayakan adalah suatu kewajiban, dan harus dijalankan apapun konsekuensinya. Bukan dikerjakan waktu senang, atau muncul sekarang dan besok menghilang.

Sifat kesetiaan tidak mementingkan diri sendiri, siap dirugikan bila itu untuk kepentingan bersama. Siap mengorbankan hak, demi kepentingan orang lain. Sifat setia tetap berdiri teguh walaupun diombang-ambingkan dengan berbagai tipu daya. Ia tidak terpengaruh oleh arus perubahan sekelilingnya. Pendiriannya tetap dan selalu siap dalam mempertanggungjawabkan apa yang telah dipercayakan kepadanya.


3. Kebulatan Hati
Perbuatan seseorang yang tidak mementingkan diri sendiri, akan memberi dampak kepada orang lain. Ia melihat kebutuhan orang lain dan mengulurkan tangannya untuk mennolong dengan tulus ikhlas. Pertolongan yang diberikannya tidak mempunyai maksud-maksud tertentu.

Memberi pertolongan berarti melepas ego kita dari pertolongan yang kita berikan, apapun jenis dan bentuknya. Kebulatan hati berarti tidak mengharapkan balasan atas jasanya. Pertolongan yang kita berikan bukan hutang budi yang perlu dibayar kemudian. Karena hutang uang dapat dibayar tetapi hutang budi tidak dapat dibayar lunas. Dan yang menerima pertolongan tidak diharuskan untuk mengembalikannya.

Kebulatan hati bukan pula “menanamkan modal.” Bilamana pertolongan kita ibarat penanaman modal untuk mendapatkan untung, maka pertolongan kita kehilangan nilainya.

4. Kebulatan Tekad
Sifat ini pantang menyerah; maju terus; pantang mundur. Mereka menggunakan tenaga sekuat mungkin sampai pada batas kemampuannya. Mereka berjuang sampai meraih kemenangan. Pandangan mereka tertuju kepada tujuan yang tentu. Ketika perjalanan terasa sulit, hanya mereka yang kuat tekadnya dapat melanjutkan perjuangan. Kebulatan tekad mereka terkandung dalam semangat juang mereka.

5. Mencapai Sasaran
Sasaran yang hanya dapat dicapai oleh mereka yang pandang-pandangannya tertuju hanya kepada sasaran tersebut. Pikirkan mereka tidak bercabang. Dengan tidak menghiraukan keadaan sekelilingnya, ia berusaha untuk mencapai sasaran dan tujuan hidupnya.

Tentang sifat kebulatan tekad ini, rasul paulus memberikan teladan bagi kita. Dengan penuh keyakinan ia berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (1 Timotius 4:7).

Rasul Paulus sungguh telah menciptakan dampak dan kesan yang mendalam kedalam hidup banyak orang percaya dari masa ke masa. Tentu saja bahwa Paulus memiliki kelima sifat tadi sebagai panutan dari sikap dan sifat Tuhan Yesus sendiri. Ketika Yesus melewati jalan panjang kesengsaraan mataNya tertuju hanya kepada Salib. Tidak ada jalan potong kompas yang Ia lalui. Oleh karena itu hidupNya tidak hanya memberikan dampak kepada murid-muridnya ketika Ia masih di dunia tetapi juga kepada hidup manusia sepanjang masa di dunia ini.

Sejarah dunia membuktikan pengaruh dan perubahan yang terjadi dari kehidupan orang-orang yang bertemu dengan Dia. Dunia tidak pernah melihat lukisan dari Tuhan Yesus Kristus karena memang Ia tidak pernah melukis gambar. Tetapi karya-karya para pelukis termasyur, Raphael, Michelangelo dan Leonardo da Vinci mendapatkan ilham dari Tuhan Yesus. Yesus Kritus tidak pernah mengarang sebuah lagupun. Tetapi Haydn, Handel, Beethoven, Bach dan Mendelssohn mencapai puncak kesempurnaan irama/melodi lagu atau simponi ciptaan mereka untuk meyatakan keagungan Yesus itu. Filsuf Socrates mengajar selama 40 tahun, Plato 50 tahun dan Aritoteles 40 Tahun. Yesus hanya 3 tahun. Tetapi masa pengajaran 3 tahun dari Yesus jauh melampaui pengaruh dari pengajaran ketiga filsuf termuka ini. Ajaran para filsuf hanya mencapai pikiran manusia; ajaran Yesus Kristus menyentuh lubuk hati mereka. Dan mutu hidup dan arah hidup mereka berubah oleh damoak kehidupan Yesus pada mereka.

Apakah Anda sedang menciptakan kesan yang abadi terhadap hidup seseorang?.



Read More → Bagaimana Hidup Anda
 

Pengikut